Senin, 23 Mei 2016

FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TERJADINYA LUKA DEKUBITUS (CONTOH PROPOSAL)



BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Dekubitus merupakan masalah yang dihadapi oleh pasien-pasien dengan penyakit kronis, pasien yang lemah, dan pasien yang lumpuh dalam waktu lama, bahkan saat ini merupakan suatu penderitaan sekunder yang banyak dialami oleh pasien-pasien yang dirawat di rumah sakit. Menurut Chapman dan Chapman, 1986, hal.106, mendefinisikan dekubitus sebagai suatu daerah kerusakan seluler yang terlokalisasi, baik akibat tekanan langsung pada kulit, sehingga menyebabkan “ iskemia tekanan “ maupun akibat kekuatan gesekan sehingga menyebabkan stress mekanik terhadap jaringan (Moya J.M, 2004).
Pasien yang berada di tempat tidur untuk waktu yang lama, pasien dengan disfungsi motorik atau sensorik, dan pasien yang mengalami atrofi muskular dan reduksi bantalan antara kulit di atasnya dengan tulang di bawahnya cenderung untuk mengalami dekubitus (Brunner dan Suddarth, 2002).
Ulkus dekubitus dapat berkembang dalam beberapa jam saja bila tindakan perawatan tidak tepat dan kurang berhati-hati. Kulit yang memerah merupakan suatu tanda bahaya. Ulkus dekubitus yang menyembuh juga sangat rentan untuk kembali rusak. Penyembuhan agaknya lebih ditentukan oleh kesehatan umum dari pada perawatan lokal saja (T.Declan Walsh, 1997).
Penelitian menunjukkan bahwa 6,5 – 9,4 % dari populasi umum orang dewasa yang dirawat di rumah sakit, menderita paling sedikit satu dekubitus pada setiap kali masuk rumah sakit (Barbenel et al, 1997; Jordan dan Nicol, 1977; David et al, 1983). Pada populasi pasien lanjut usia yang dirawat di rumah sakit, insidens dekubitus dapat menjadi jauh lebih tinggi (Exton-Smith, 1987).
Keberhasilan pengobatan dekubitus melalui pembedahan dimulai pada saat perang dunia II ketika para dokter dihadapkan pada meningkatnya jumlah pasien muda yang menderita cedera saraf spinal. Pada saat yang sama, diketahui pula bahwa diet tinggi protein dibutuhkan untuk mengatasi keseimbangan nitrogen negative pada pasien dengan luka terbuka yang kronis (Mulholland et al, 1943). Sejak itu, meskipun pencegahan dan pengobatan dekubitus telah diteliti secara luas, hanya terdapat sedikit bukti yang menunjukkan adanya penurunan insidens dekubitus atau adanya suatu perbaikan dalam pengobatannya. Dalam penelitian besar yang dipublikasikan pada tahun 1983, perawat diketahui telah menggunakan 98 substansi yang berbeda untuk mengobati dekubitus (David et al, 1983). Insidens dekubitus dapat secara nyata diturunkan bila penanggungjawab di bidang kesehatan atau rumah sakit telah mengembangkan suatu kebijakan tentang pencegahan dan pengobatan dekubitus yang diketahui dan dilaksanakan oleh semua karyawan (Livesley, 1987; Hibbs, 1988). Kebutuhan untuk mengenalkan pelayanan pencegahan dan pengobatan dekubitus yang diorganisasi dan diaudit dengan tepat, telah disadari oleh para dokter dari Royal College (1986), tetapi kebanyakan dokter tidak memandang pencegahan dan penatalaksanaan dekubitus sebagai tanggung jawab mereka (Moya J.M, 2004).
Adapun faktor-faktor yang teridentifikasi sebagai penunjang terhadap terjadinya dekubitus mencakup immobilitas, kerusakan persepsi sensori dan/atau kognisi, penurunan perfusi jaringan, penurunan status nutrisi, friksi dan gaya tarikan, peningkatan kelembaban, dan perubahan kulit yang berhubungan dengan usia.
Immobilitas. Bila seseorang tidak bergerak dan tidak aktif, jaringan kulit dan subkutan mengalami penekanan oleh benda di mana orang tersebut beristirahat, seperti kasur, tempat duduk atau traksi. Terjadinya dekubitus secara langsung berhubungan dengan lamanya immobilitas. Jika penekanan berlanjut cukup lama, akan terjadi trombosis pembuluh darah kecil dan nekrosis jaringan, yang mengakibatkan dekubitus.
Kerusakan persepsi sensoro dan/atau kognisi. Pasien yang mengalami kehilangan sensori, penurunan tingkat kesadaran, atau paralysis dapat tidak merasakan ketidaknyamanan yang berkaitan dengan tekanan berkepanjangan pada kulit. Oleh karenanya, mereka tidak akan mengubah posisi mereka untuk menghilangkan tekanan. Sehingga dekubitus dapat terjadi dengan periode yang sangat singkat.
Penurunan perfusi jaringan. Segala kondisi yang menurunkan sirkulasi dan nutrisi pada kulit dan jaringan subkutan meningkatkan risiko terjadinya luka dekubitus.
Penurunan status nutrisi. Defisiensi nutrisi, anemia dan gangguan metabolic juga mendukung terjadinya luka dekubitus.
Friksi dan Gaya Tarikan. Otot yang spastic dan paralysis meningkatkan kerentanan pasien terhadap luka dekubitus yang berhubungan dengan friksi dan gaya tarikan.
Peningkatan kelembaban. Kontak berkepanjangan dengan kelembaban akibat perspirasi, urine, feses, atau drainase menyebabkan maserasi (pelunakan) kulit. Kulit bereaksi terhadap bahan kaustik dalam ekskreta atau drainase dan mengalami iritasi. Kulit yang teriritasi lebih rentan terhadap terjadinya dekubitus.
Pengaruh usia lanjut. Pada lansia kulit mengalami penurunan ketebalan epidermal, kolagen dermal, dan elastisitas jaringan. Oleh karena itu, lansia lebih rentan terhadap luka dekubitus.
Namun dalam penelitian ini, peneliti hanya akan mengambil 4 faktor di antaranya sebagai variabel penelitian yakni immobilitas, kerusakan persepsi sensori dan/atau kognisi, penurunan status nutrisi dan pengaruh usia lanjut.

Senin, 02 Mei 2016

FAKTOR-FAKTOR TERJADINYA TUMOR PAYUDARA


Factor Makro  :
  • Penyebab  : tidak diketahui
  • Adanya Ca yang pernah dialami
  • Riwayat dalam keluarga
  • Kelainan payudara benigna     dalam periode fertile
  • Makanan, BB dan factor resiko lain
  • Faktor endokrin dan reproduksi
  • Anti konseptiva oral 
Faktor Penting untukPrognosis :
Keadaan payudara hiperplastik      benigna dan maligna. Tumor berkembang dari epitel duktuli dan lobuli. Ditemukan pertumbuhan intra luminal tanpa filtrasi (stadium ini disebut carsinoma In situ). Kanker mengalami duplikasi yang konstan waktu ± 20 tahun untuk palpable) diameter 1-2 cm. Pertumbuhan yang amat cepat 20 hari      masa duplikasi preklinik    2 tahun. Diameter 1-2 cm      karsinoma dini secara klinik. Bentuk yang terpenting  : bulat, batas licin, sehingga jaringan sekitarnya seakan terdorong keluar. Kebanyakan kuadran atas lateral. 2/3 Tumor mempunyai bentuk bintang dengan perpanjangan yang berbeda ukuran.
Faktor yang berhubungan dengan prognosis buruk  :
  •  Edema kulit (peau d’orange)
  • Ulserasi
  • Mastitis; karsinatosa
  • Makin besar tumor makin tinggi terjadi metastasis.
  • Metastasis jarak jauh    tak sesuai cara distribusi CO  :
ü  Hepar 30%
ü  Kelenjar limfe 70%
ü  Paru 60%
ü  Tulang 50%
Metastasis melewati darah     sirkulasi darah dan terjadi pertumbuhan dari kapiler.
Diagnosis Karsinoma Payudara  :
  • Kebanyakan ditemukan sendiri oleh pasien
  • Penarikan dan pengerutan kulit
  • Persisikan atau eksema disertai atau tanpa kemerahan
  • Papilla mamma dan areola       paget.
  • Penggunaan obat-obatan anti kontrasepsi oral  (pil KB).
Pemeriksaan Fisik  :
1. Inspeksi dan palpasi   : setiap tumor ditentukan :
  • Ukuran dalam sentimeter
  • Bentuknya
  • Konsistensi
  • Adanya fiksasi pada kulit atau lapisan dibawahnya.
  • Periksa ketiak dan kelenjar supra klavikula
  • Curiga malignitas       palpasi hepar dan organ lainnya, tulang punggung, nyeri ketok dan nyeri tekan.

2. Pemeriksaan mamografi  :
  • Kelainan palpable
  • Indikasi    keluar cairan dari papilla mammae yang patologik.
3. Diagnostik tambahan  :
  • Ekografi
  • Biopsi jarum kecil atau besar
  • Galaktografi        memasukan kontras kedalam saluran susu.
  • CT Scan & MRI untuk tumor yang luas.
  • Triple Test  (+)  : Pemeriksaan Fisik, Fx.Sitologi, Mamografi
Dx.Differensial  :
  • Ginekomasti pada pria
  • Paget disease
  • Pengeluaran cairan dari papilla
  • Fibroadenoma. (wanita 20-35 tahun). Jaringan ganas       tetapi bila besar giant fibroadenoma.
  • Kista sarcoma phylloides

Klasifikasi Kanker Payudara

Tahap Ukuran Tumor
Keterlibatan Nodul
Metastasis
I.                   < 2 cm (T1)
II.                < 5 cm (T1,T2)

III.             > 5 cm invasi kulit, melebar pada dinding dada
IV.             Setiap ukuran (setiap T)
Tidak ada (N0))
Nodus axilla (N1) dapat berpindah
Nodus axilla tetap atau dapat berpindah (N1, N2).

Setiap Nodus
(Setiap N)
Tidak ada (M0)
Tidak ada (M0)


Tidak ada (M0)

Ya (M1)

Jenis-jenis Pembedahan Pada Payudara  :
1.      Lumpektomi  : pembuangan sederhana pada tumor
2.      Mastektomi partial : pembuangan tumor 1-3 inchi jaringan sekitarnya.
3.      Subcutaneus mastektomi : pembuangan semua jaringan yang mendasari terjadinya payudara, membiarkan kulit, areola dan putting.
4.      Mastektomi sederhana : menghilangkan seluruh payudara tetapi tidak dengan nodus axilla.
5.      Modifikasi mastektomi radikal : menghilangkan seluruh payudara (tanpa obat patoralis minor) dan menghilangkan beberapa nodus axilla.
6.      Mastektomi radikal : seluruh payudara, kelenjar linfe, axilla, peetoralis mayor dan minor, lemak dan fascia yang berdekatan dengan pembedahan.

Terapi Medis  :
  1. Pembedahan
  2. Terapi radiasi
  3. Kemoterapi / chemo therapy

TINDAKAN KEPERAWATAN

Pengkajian  :
  • Identifikasi factor resiko
  • Tanyakan bagaimana klien menemukan benjolan
  • Sebelum pembedahan        stress.
  • Persepsi pasangan
  • Kaji tingkat pengetahuan, keprihatinan sexual
  • Bantu pasangan dalam planning
  • Reaksi thd pembedahan
  • Pengkajian luka, drain, limpadema, gejala infeksi, nyeri.
Diagnosa Keperawatan  :
1.      Kurang pengetahuan b/d pembedahan dan pengobatan
Perencanaan : Outcome yang diharapkan  :
Klien bertanya dan menyatakan pendapat tentang pembedahan dan pengobatan.
Implementasi :
a.                   Beri info tentang pengobatan dan pembedahan sebelum operasi.
b.      Beri pengetahuan tentang aktivitas preoperasi, jelaskan jenis pembedahan, jelaskan perawatan post op, discharge planning, dan cara yang dapat diikuti.
c.                   Beri instruksi secara tertulis.
2.      Coping individu tidak efektif b/d diagnosa kanker :
Perencanaan : outcome yang diharapkan  :
Klien menerima perubahan dan mengambil kepuusan untuk berobat.
Implementasi :
  1. Kaji kemampuan koping klien dan SO sebelum op.
  2. Identifikasi koping mekanisme yang dapat digunakan klien/SO.
  3. Bantu klien mendapatkan koping yang efektif.
3.      Gangguan konsep diri : bodi image b/d perubahan payudara dan sexualitas :
Implementasi :
a.       Kaji problem body image dan sexualitas.
b.      Bantu memilih pelayanan kesehatan profesional (Social Worker Sex Therapis), ajak klien membicarakan masalahnya bersama klien lain yang menderita Penyakit yang sama. Wanita yang mengalami pembedahan payudara dapat merasa :
Þ    Perubahan kehidupan rutin.
Þ    Konsep diri : body image
Þ    Tekut kematian.
c.       Jika mengalami penurunan BB dan alopesia     sarankan memakai wig.




Jumat, 29 April 2016

KUALITAS PELAYANAN RUMAH SAKIT DAN KEPUASAN PASIEN




1.Rumah sakit sebagai unit pelayanan kesehatan
Sebelum mengkaji lebih jauh tentang kualitas pelayanan perawat dalam kaitannya dengan pemenuhan kepuasan pasien, maka terlebih dahulu yang perlu diketahui adalah pengertian rumah sakit sebagai unit pelayanan kesehatan.

Rumah sakit dinyatakan sebagai suatu bahagian menyeluruh (integral) dari organisasi dan medis, berfungsi memberikan pelayanan kesehatan yang lengkap kepada masyarakat baik kuratif maupun rehabilitatif. Selain itu rumah sakit juga merupakan pusat pelatihan tenaga kesehatan, serta untuk penelitian biososial. Hospital yang sekarang dikenal di Indonesia sebagai rumah sakit berasal dari kata Yunani yaitu  “Hospitum”. Hospitum adalah suatu tempat untuk menerima orang-orang asing dan peziarah di zaman dulu (Yaslis Ilyas : 2001).
Saat ini rumah sakit merupakan suatu institusi dimana segenap lapisan masyarakat bisa datang guna memperoleh pelayanan kesehatan. Upaya pelayanan inilah yang menjadi fungsi utama rumah sakit pada umumnya. Selain itu, rumah sakit dapat berfungsi sebagai pusat pelayanan rujukan medik spesialistik dan sub spesialistik dengan fungsi utamanya menyediakan dan menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif) (Depkes RI : 1989).
Dengan fungsi utamanya tersebut, perlu pengaturan sedemikian rupa sehingga rumah sakit mampu memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya dengan lebih berdaya guna dan berhasil guna (Yaslis Ilyas : 2001).
Tingkat keberhasilan pelayanan di rumah sakit dapat dilihat dari berbagai aspek antara lain; (1) tingkat pemanfaatan sarana pelayanan, (2) mutu pelayanan, (3) tingkat efisiensi pelayanan. (Depkes RI : 1999). Untuk mengetahui tingkat pelayanan ini, terdapat beberapa indikator yang digunakan untuk menilai suatu rumah sakit, yaitu:
a.    BOR (Bed Occupancy Rate)
b.   ALOS (Aferage Length of Stay)
c.    BTO (Bed Turn Over)
d.   TOI (Turn Over Interval)
e.    NDR (Net Death Rate)
f.     GDR (Gross Death Rate)
Untuk memahami harapan pelanggan dalam sebuah proses pelayanan, dapat digunakan suatu alat yang disebut “jendela pelanggan” (customer window) yang diperkenalkan oleh ARBOR, inc yaitu suatu perusahaan bisnis pasar TQM yang berpusat di Philadelphia. Dalam jendela pelanggan ini, karakteristik pelanggan terbagi dalam 4 kuadran  Tenner ( 1993 ; 90 ), yaitu :
a.        Pelanggan menginginkan karakteristik jasa itu, tetapi dia tidak mendapatkannya. Dalam kondisi ini pelanggan merasa tidak puas dan perlu diperhatikan (Kotak A = Attention).
b.       Pelanggan menginginkan karakteristik jasa itu, dan dia mendapatkannya. Dalam hal ini pelanggan merasa puas dan pemberi jasa bebas (Kotak B = Bravo).
c.        Apa yang tidak diharapkan pelanggan dihentikan dan dianjurkan untuk mendidik pelanggan tentang manfaat jasa yang ditawarkan (Kotak C = Cut or Communication).
d.       Tidak ada masalah yang terjadi karena pelanggan tidak memperoleh apa yang tidak diinginkannya (Kotak D = Don’t Worry be Happy).
Perkembangan dewasa ini menunjukan bahwa pelayanan jasa rumah sakit telah berkembang menjadi industri yang berbasis pada prinsip-prinsip ekonomi sehingga apabila dihubungkan dengan bauran pemasaran jasa dikenal konsep 3P yaitu; partisipan atau people, physical epidence dan process.    Konsep ini menurut Payne   ( 2000 )adalah merupakan sebuah pendekatan baru yang ditambahkan pada pendekatan tradisional yaitu unsur produk, harga, promosi dan tempat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dapat disimpulkan bahwa bauran pemasaran jasa khsusunya pada jasa pelayanan kesehatan pada dasarnya terdiri dari 7P yaitu; product, price, promotion, place, people, process dan customer service.

          2. Kualitas Pelayanan
Selanjutnya Parasuraman, dkk mengemukakan pendapat bahwa kualitas pelayanan yang dipersepsi oleh pelanggan (perceived service quality) didefinisikan sebagai beberapa besar kesenjangan antara persepsi pelanggan atas kenyataan pelayanan yang diterima dibandingkan dengan harapan pelanggan atas pelayanan yang seharusnya diterima 
Kualitas pelayanan merupakan ukuran penilaian  menyeluruh atas tingkat suatu pelayanan yang baik    Parasuraman ( 1997 )
Jadi dengan demikian kualitas pelayanan dapat diketahui dari cara membandingkan antara persepsi (kenyataan) dengan ekspektasi (harapan) pelanggan atas sesuatu pelayanan yang diberikan oleh perusahaan pemberi jasa seperti halnya dalam sebuah rumah sakit sebagai unit pelayanan jasa kesehatan.
Oleh karena kualitas pelayanan dapat pula diartikan sama dengan mutu pelayanan, batasan pengertian mutu pelayanan antara lain adalah totalitas dari wujud serta ciri dari suatu barang atau jasa yang didalamnya terkandung sekaligus pengertian rasa aman dan pemenuhan kebutuhan para pengguna. Mutu adalah kepatuhan terhadap standar yang telah ditetapkan, ( Supriyanto ; 1998 )
Dalam kaitan tersebut, Aniroen (1994) mengemukakan bahwa mutu pelayanan rumah sakit adalah derajat kesempurnaan pelayanan rumah sakit untuk memenuhi kebutuhan dari masyarakat konsumen akan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan standar profesi dan standar pelayanan dengan menggunakan potensi sumber daya yang tersedia di rumah sakit secara wajar, efisien dan efektif serta diberikan secara aman dan memuaskan sesuai dengan norma, etika, hukum dan sosio-budaya dengan memperhatikan keterbatasan dan kemampuan pemerintah dan masyarakat konsumen.  
Pada dasarnya kualitas pelayanan dapat diukur dengan berbagai macam metode dan teknik. Ada 4 metode untuk mengukur kualitas, yaitu sistem keluhan dan saran, ghost shoping, lost customer analisys dan survey kepuasan pelanggan,Kolter ( 1994 )
                    Faktor utama menjadi lima dimensi pokok untuk mencapai kepuasan yaitu: ( Zeithami : 1990 )                  
          1). Kehandalan ( Reliability )
                         Kemampuan memberikan pelayanan     yang       dijanjikan  
              dengan segera, akurat dan memuaskan, mencakup dua hal pokok yaitu konsistensi kerja ( performance ), dan kemampuan untuk dipercaya ( dependability ). Dimana perusahaan memberikan jasanya secara tepat ( memenuhi janjinya )
              Kinerja harus sesuai dengan harapan pelanggan yang berarti ketepatan waktu, pelayanan yang sama untuk semua pelanggan tanpa kesalahan, sikap yang simpatik dan dengan akurasi yang tinggi.
          2). Daya tanggap ( responsiveness )
                         Suatu kemampuan untuk membantu dan memberikan pelayanan yang cepat (responsive) dan tepat kepada pelanggan, dengan penyampaian informasi yang jelas. Membiarkan konsumen menunggu tanpa adanya suatu alasan yang jelas menyebabkan persepsi yang negatif dalam kualitas pelayanan.
          3). Jaminan ( assurance)
                         Mencakup pengetahuan, kesopan santunan dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki para staf sehingga para pelanggan bebas dari bahaya, resiko, dan keragu-raguan.Dalam dunia persaingan saat ini jaminan terhadap konsumen merupakan faktor penentu untuk merebut keunggulan dalam bersaing.
              Pelanggan menuntuk suatu bukti imbalan yang minimal seimbang dari pengorbanan yang diberikan.Setiap pelanggan memiliki harapan yang tertentu dari setiap pengorbanannya.
                           Kajian yang dilakukan oleh Whiteley ( 1991 ) menunjukkan bahwa sebagian besar (hampir 70 %) pelanggan meninggalkan perusahaan tertentu karena keluhan terhadap ketidakpastian yang disebabkan kualitas pelayanan yang berubah-ubah.
          4). Empati ( Empathy )
                         Memberikan perhatian yang tulus yang bersifat individual atau pribadi yang diberikan kepada para pelanggan dengan berupaya memahami keinginan konsumen. Dimana suatu perusahaan diharapkan memiliki pengertian dan pengetahuan tentang pelanggan, memahami kebutuhan pelanggan secara spesifik, serta memiliki waktu pengoprasien yang nyaman bagi pelanggan.
          5). Bukti fisik ( Tangible )
                         Kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan eksistensinya kepada pihak eksternal. Penampilan dan kemampuan sarana prasarana fisik perusahaan dan keadaan lingkungan sekitarnya adalah bukti nyata dari pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa, yang meliputi fasilitas fisik, peralatan dan perlengkapan yang dipergunakan serta penampilan pegawainya.

    Tinjauan Umum Tentang Keperawatan 
Menurut lokakarya keperawatan nasional tahun 1983, definisi keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari  pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosial-spiritual yang komprehensif serta ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencakup seluruh siklus kehidupan manusia,  (Robert Priharjo:1995 )
Menurut Handerson 1980 pelayanan keperawatan adalah upaya untuk membentu individu baik sakit maupun sehat, dari lahir sampai meninggal dunia dalam bentuk peningkatan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki sehingga individu tersebut dapat secara optimal melakukan kegiatan sehari-hari, ( Zaidin Ali : 2002       )
Keperawatan adalah salah satu profesi di rumah sakit yang berperan penting dalam upaya menjaga mutu pelayanan kesehatan rumah sakit. Pada standar tentang evaluasi dan pengendalian mutu di jelaskan bahwa pelayanan keperawatan menjamin adanya asuhan keperawatan yang bermutu tinggi dengan terus menerus melibatkan diri dalam program pengendalian  mutu rumah sakit.        
Dalam buku hospital managemen menyebutkan bahwa Nusrsing departemen mempunyai beberapa tugas seperti : ( James Willand )
          1). Memberikan pelayanan keperawatan kepada pasien baik    untuk
               kesembuhan ataupun pemulihan status fisik dan mentalnya.
          2). Memberikan pelayanan untuk    kenyamanan    dan     keamanan  
               pasien seperti penataan tempat tidur, mengatur posisi tidur.
          3). Melakukan tugas-tugas administrasi.
          4). Menyelenggarakan pendidikan keperawatan berkelanjutan.
          5). Melakukan berbagai penelitian/riset untuk senantiasa meningkat
               kan mutu pelayanan keperawatan.
          6). Berpartisipasi aktif dalam program pendidikan bagi calon  tenaga
               perawat. 
                         Kegiatan keperawatan di rumah sakit terdiri dari keperawatan klinik dan manajemen keperawatan,( John Griffth : 1987 ) . Kegiatan keperawatan klinik antara  lain terdiri dari :
          1). Pelayanan keperawatan personal    ( personal nursing care )  yang
              antara lain berupa pelayanan keperawatan umum atau spesifik untuk sistem tubuh tertentu, pemberian motivasi dan dukungan
              emosi pada pasien, pemberian obat dan lain-lain.
         2). Berkomunikasi dengan dokter dan petugas penunjang medik, mengingat perawat selalu berkomunikasi dengan pasien setiap waktu sehingga  tau tentang keadaan pasien.
         3). Berbagai hal tentang keadaan pasien ini perlu di komunikasikan dengan dokter atau petugas lain.
         4). Menjalin hubungan yang baik dengan keluarga pasien akan membantu proses penyembuhan pasien itu sendiri.
         5). Menjaga lingkungan bangsal tempat perawatan pasien  baik fisik,mikrobiologi, keamanan.
         6). Melakukan penyuluhan kesehatan dan upaya pencegahan penyakit.Program ini dapat dilakukan pada pasien dengan materi spesifik sesuai penyakit yang dideritanya.
                         Dalam keperawatan tujuan kualitas pelayanan adalah untuk memastikan bahwa jasa atau produk pelayanan keperawatan yang dihasilkan sesuai dengan standar/keinginan pasien, ( Nursalam : 2002 )
                         Dalam pengertian ini dapat di pahami bahwa proses pemberian layanan keperawatan di suatu rumah sakit sangat ditentukan oleh terpenuhinya keinginan pasien sebagai pengguna jasa perumahsakitan. Dalam hal ini pemberuian layanan keperawatan didasarkan pada ukuran-ukuran tertentu yang ditetapkan oleh pihak rumah sakit sehingga dapat memenuhi keinginan pasien ( pelanggan).